Reyog Ponorogo Di Sewandanan, Memukau Publik Jogja

Reyog Ponorogo Di Sewandanan, Memukau Publik Jogja | Images : RRI.co.id

Dua anak muda dengan perkasa tanpa kenal lelah selama sepuluh menit menggigit bilah dibalik topeng Barongan seberat 50 kilogram sambil meliuk-liukkannya dihadapan ratusan masyarakat yang memenuhi Alun-Alun Sewandanan Puro Pakualaman Yogyakarta, Minggu sore (14/09/14). Itulah cara pemain Barongan menarikan tarian Reog Dhadhak Merak yang berupa Kepala Harimau berhiaskan Bulu Merak tertata rapi menjuntai keatas, sangat elok.

Kedua pemuda itu anggota dari Paguyuban Warga Ponorogo –Pawargo- Manggolo Mudo Yogyakarta, bersama-sama dengan 20 penari muda lainnya mengisi acara Pentas Seni Tradisi yang dihelat pihak Kraton Puro Pakualaman di bulan September 2014.

Pembina Pawargo Yogyakarta, Ibu Adam Suyadi kepada RRI menjelaskan bahwa Reog Ponorogo itu berbeda dengan Jathilan Ponorogo karena Reog tersebut berkaitan erat dengan legenda Raden Katong alias Bathoro Katong, putera Raja Majapahit Brawijaya V yang mendirikan Kabupaten Ponorogo di awal abad ke-15, bersamaan dengan berkembangnya Kerajaan Demak Bintoro di bawah pimpinan Raden Patah, yang masih sekeluarga dengan Raden Katong.

Di Ponorogo, Raden Katong aktif berdakwah menyebarkan Ajaran Islam melalui tontonan kesenian Reog. Kisah yang dihadirkan diambil dari dongeng legenda Kerajaan Kediri yakni riwayat Putera Mahkota Kerajaan Bantar Angin yang bernama Klono Sewandhono.

Klono Sewandhono berhasrat mempersunting Dewi Songgolangit Sari Kediri namun harus menghadapi seekor Harimau bernama Singobarong. Dalam perang itu, Klono Sewandhono dibantu para ksatria yang teridir dari Warok, Patih Pujangga Anom yang dikenal dengan sebutan Bujang Ganong dan para Gemblak (diperankan oleh pemudi-pemudi) selaku pengiring mengendarai Kuda Kepang atau Jaranan.

Ciri khas Reog Ponorogo yaitu suara iringan gamelan Kempul, Gong dan Terumpet yang memekakkan telinga, sehingga suaranya yang menggema sampai jauh menarik perhatian setiap orang untuk menontonnya. Sebagai salah satu ciri khas seni budaya di Kabupaten Ponorogo, Reog sering dikaitkan dengan dunia mistis dan kekuatan supranatural. Terlebih bagi Pembarong yang mampu mengangkat Dhadhak Merak seberat 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi, selama pertunjukkan berlangsung.

Instrumen pengiringnya berupa Kempul, Ketuk, Kenong, Ketipung, Angklung dan terumpet, menyuarakan nada Slendro dan Pelog sekaligus yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis dan mampu membangkitkan semangat kepada para pemainnya.

Bagi Warok Tua dianggap telah menguasai ilmu yang disebut “Reh Kamusankan Sejati” yakni Jalan Kemanusiaan Yang Sejati, sehingga keberadaannya menjadi panutat dan tempat meminta nasehat. Sedangkan Warok Muda adalah mereka yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Adapun Gemblakan yang dahulu diperankan remaja pria kini diganti dengan remaja putri yang tampil luwes nan gemulai.

Sekretariat Pawargo “Mangolo Mudo” Yogyakarta beralamatkan di Jalan Masjid N0. 4, Pakualaman Yogyakarta dengan nomor kontak 0274-513589 atau ke handphone nomer 081 1255 986.

Sumber : rri.co.id/yogyakarta

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *