Tim Dinas ESDM Jatim tinjau lokasi Tanah Terbelah Sawoo

Tim Dinas ESDM Jatim tinjau lokasi Tanah Terbelah Sawooption

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur menerjunkan tim untuk meninjau lokasi tanah yang terbelah di Dusun Kleco, Desa/Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.

Sampai saat ini belahan bumi (tanah) sepanjang 250 meter itu dari hari ke hari makin memanjang dan lebar. Kondisi ini membuat ratusan warga yang tinggal di kawasan pegunungan itu merasa ketakutan. Mereka khawatir retakan tanah akan semakin melebar dan merobohkan 30 rumah yang ada di kawasan itu.

Selain itu akses jalan dari Desa Temon ke Desa Sawoo juga sudah putus sejak sepekan lalu.

Kepala Bidang Geologi Dinas ESDM Jatim Kukuh Sudjatmiko yang turun langsung dalam pengamatan menyatakan, Bukit Pakwatu sangat rawan longsor. Ini terlihat dari rekahan yang sudah menyambung dari ujung sebelah barat menuju ke timur. Sehingga punggung bukit yang menghadap ke selatan memang sudah terlihat patah.

“Bukit ini sudah terpotong oleh adanya kekar-kekar (rekahan). Kalau nantinya terkena air hujan maka beban akan semakin berat sehingga sangat rawan longsor. Kemungkinan arahnya ke selatan, ke pemukiman penduduk. Jadi ya semua harus waspada,” ujar Kukuh kepada lensaindonesia.com,” Senin (22/09/2014) .

Kukuh memperkirakan, terbelahnya tanah dari bukit Pakwatu hingga ke pemukiman warga Dusun Kleco ini akibat pelapukan lapisan batu dan tanah.

“Bukit semakin ringkih. Batuan yang berjenis sedimen sudah berubah menjadi tanah yang menjadi beban tersendiri bagi lapisan tanah di bawahnya. Rekahan yang berada di dalam tanah sangat mungkin menjadi bidang gelincir bagi bukit tersebut sehingga mudah longsor,” paparnya.

Menurut dia, minimnya tanaman di bukit tersebut membuat tanah tidak terikat sehingga semakin mudah merekah. Namun hal itu bukan penyebab utama. “Yang paling utama adalah beban yang berat karena pelapukan tanah dan batuan di situ,” terang Kukuh.

Ia mengaku belum bisa menyebut adanya gempa vulkanik atau tektonik yang menjadi pemicu rekahan yang cukup luas ini. Sebab selain tidak ada aktivitas kegempaan, di bagian bukit lain di sekitar Bukit Pakwatu tidak ditemukan rekahan.

Berdasarkan pengamatan Dinas ESDM Jatim, saat ini lebar rekahan bervariasi mulai yang sempit selebar 1 meter dengan kedalaman 3 meter hingga 10 meter. Sedangkan panjang retakan tanah yang mengagah tersebut saat iin lebih dari 250 meter. “Kemiringan tanah mencapai 30-40 derajat,” kata Kukuh.

Terkait dengan itu, Kasi Pencegahan dan Kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono menyatakan, laporan dari warga sudah masuk sejak ditemukan rekahan pertama kali. Hal ini telah ditindaklanjuti dengan monitoring dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Kami terus berkordinasi untuk mengantisipasi hal terburuk. Diantaranya menyiapkan hal-hal yang diperlukan bila sampai butuh evakuasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Sawoo, Santoso mengatakan,  pekan lalu, lebar retakan mencapai 50 sentimeter, namun kini kian melebar hingga 1 meter.

“Sekarang panjangnya sudah menjadi 250 meter. ’Kalau sampai yang di atas runtuh, 1 RT kena semua. Ini kalo buminya masih bengkah (retak) lagi yang di bawah kena. Kami menunggu pemerintah apakah warga diungsikan atau tidak, setidaknya sebelum musim hujan sudah teratasi,” ujarnya Jumat(19/09/2014).

Sumber : Lensaindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *